Lompat ke isi

Osman I

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Osman I
Lukisan Osman abad ke-19 oleh Konstantin Kapıdağlı
Uch Bey di Kesultanan Rum
Berkuasaca1280ca1299
PendahuluErtuğrul
PenerusMemerdekakan diri dari Kesultanan Rum Seljuk
Pemimpin Utsmaniyah
Berkuasaca1299 – 1323/4
PendahuluMemerdekakan diri dari Kesultanan Rum Seljuk
PenerusOrhan
LahirTidak diketahui,[1]
mungkin ca1254/5[2]
Kesultanan Rum
Meninggal1323/4[3] (umur 68–70)
Bursa, Utsmaniyah
Pemakaman
Makam Osman Gazi, Osmangazi, Bursa, Turki
AyahErtuğrul
IbuHalime
PasanganRabia Bala
Malhun
Keturunan
Nama lengkap
Osman bin Ertuğrul[4]
عثمان بن ارطغرل
Bahasa Turki Utsmaniyahعثمان غازى
TurkiOsman Ghazi
WangsaUtsmaniyah
AgamaIslam

Osman I atau Osman Ghazi (Turki Utsmaniyah: عثمان غازى, Osmān Ġāzī; meninggal 1323/4[5]) adalah bapak dari Wangsa Utsmaniyah dan merupakan pemimpin pertama dari negara Utsmaniyah yang di masanya masih berupa kadipaten kecil. Ia mewarisi jabatan ayahnya sebagai adipati (bey) di bawah Kesultanan Seljuk Rum. Saat Seljuk Rum mengalami gonjang-ganjing, Osman memerdekakan diri dan memerintah kadipaten berdaulat itu sampai akhir hayatnya pada 1323 atau 1324. Sepeninggal Osman, keturunannya menggunakan namanya sebagai nama dinasti dan negara (nama dinasti dan negara tersebut dieja menjadi 'Utsmani' atau 'Utsmaniyah' dalam bahasa Arab dan Indonesia dan menjadi 'Ottoman' dalam ejaan barat).

Dikarenakan kelangkaan sumber sejarah di masa Osman, sangat sedikit informasi faktual yang diketahui tentangnya.[6] Tidak ada satupun sumber tertulis dari masa Osman yang tersisa. Pencatatan tentang sejarah Osman baru ditulis pada abad kelima belas masehi, atau lebih dari seabad setelah mangkatnya.[7] Dikarenakan masalah tersebut, adalah sebuah tantangan besar bagi para sejarawan untuk memisahkan antara fakta dan mitos yang berkaitan tentangnya.[8]

Nama dan gelar

[sunting | sunting sumber]

Beberapa ahli menyatakan bahwa nama asli Osman adalah nama asli Turki, kemungkinan Atman atau Ataman, kemudian diubah menjadi Osman yang merupakan nama bahasa Arab. Sumber awal Romawi Timur mengeja namanya dengan Ατουμάν (Atouman) or Ατμάν (Atman), sedangkan sumber Yunani secara teratur menggunakan θ, τθ, atau τσ bila merujuk Utsmān (ejaan Arab) atau ʿOsmān (ejaan Turki). Sumber awal Arab juga menyebut namanya menggunakan huruf ط dan bukannya ث. Osman mungkin mengganti namanya menjadi nama Arab-Muslim di kemudian hari karena dipandang lebih berkelas.

Meski daftar Sultan Utsmaniyah selalu menempatkan Osman dalam urutan pertama, gelar sultan baru resmi digunakan penguasa Utsmani tahun 1383 pada masa kekuasaan cucunya, Murad I. Osman masih mempertahankan gelar lamanya, bey, dapat disepadankan dengan adipati atau kepala suku dalam konteks ini, gelar yang dia sandang saat masih menjadi bawahan Kesultanan Seljuk Rum.

Kehidupan awal

[sunting | sunting sumber]
Wilayah kadipaten di bawah kepemimpinan Osman I. Merah tua adalah saat awal kepemimpinan Osman, sedangkan merah terang adalah saat akhir kepemimpinan Osman. Keterangan dalam bahasa Inggris.

Tidak diketahui secara pasti tanggal kelahiran Osman dan sangat sulit pula mengetahui awal kehidupannya karena kurangnya sumber, juga masuknya berbagai mitos dan legenda tentangnya pada masa-masa setelahnya.[1][9] Dia diperkirakan lahir di pertengahan abad ketiga belas, kemungkinan tahun 1254 atau 1255 menurut sejarawan Utsmaniyah abad keenam belas, Kemalpaşazade.[10]

Menurut tradisi Utsmaniyah, ayah Osman yang bernama Ertuĝrul memimpin suku Kayı dari Asia Tengah menuju Anatolia. Dia melarikan diri dari serangan Mongol, kemudian berjanji setia kepada Sultan Kayqubad I dari Kesultanan Rum yang kemudian memberinya izin mendirikan beylik (kadipaten, wilayah yang dipimpin seorang bey) di Söğüt yang saat itu merupakan wilayah pinggir Seljuk dan berbatasan dengan Kekaisaran Romawi Timur.[11]

Lokasi ini rupanya menguntungkan. Di barat, Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) yang saat itu melemah. Sementara di timur, pasukan muslim di bawah Turki Seljuk kacau karena menghadapi agresi Mongol dalam pengepungan Bagdad.

Sekitar tahun 1281, Osman menjadi adipati dan kepala suku setelah ayahnya meninggal.[11] Pada saat inilah, banyak para tentara bayaran berdatangan kepadanya yang dengan harapan dapat melemahkan monarki Ortodoks. Selain itu, populasi Turki di bawah kepemimpinan Osman I secara terus-menerus diperkuat dengan banjir pengungsi yang melarikan diri dari Mongol. Dari jumlah tersebut, tentara Ghazi atau pejuang Islam, pejuang perbatasan yang percaya bahwa mereka berjuang untuk ekspansi atau membela Islam. Di bawah kepemimpinan Osman yang kuat dan cakap, para prajurit ini segera terbukti menjadi kekuatan yang tangguh dan dasar-dasar negara pun dapat dengan cepatnya bisa diletakkan.

Mimpi Osman

[sunting | sunting sumber]

Osman memiliki hubungan dekat dengan Syaikh Edebali, tokoh sufi terkemuka di wilayahnya. Salah satu kisah paling terkenal yang berkaitan dengan Osman dan Syaikh Edebali adalah "Mimpi Osman", kisah yang menceritakan bahwa saat Osman tidur di kediaman Syaikh Edebali,[12] Osman bermimpi bahwa rembulan muncul dari dada Syaikh Edebali dan kemudian masuk ke dalam dada Osman sendiri. Kemudian dari pusar Osman tumbuhlah pohon besar yang menaungi dunia. Di bawah naungan pohon ini ada pegunungan dan air mengalir dari kaki-kaki gunung ini. Beberapa orang mengambil airnya untuk minum dan sebagiannya untuk berkebun. Syaikh Edebali kemudian menafsirkan mimpi Osman bahwa Osman dan keturunannya akan dianugerahi kekuasaan dan putri Syaikh Edebali sendiri (dilambangkan sebagai rembulan dalam mimpi Osman) akan menjadi istri Osman.[9][13]

Kisah mimpi Osman ini ditafsirkan menjadi tanda bahwa kekuasaan Osman dan keturunannya adalah pemberian Tuhan.[14] Namun selain kekuasaan yang diberikan, mimpi itu juga secara implisit bermakna bahwa Osman dan keturunannya harus menjaga kesejahteraan para bawahannya.[15]

Masa kekuasaan

[sunting | sunting sumber]

Awal kekuasaan

[sunting | sunting sumber]

Osman mewarisi tampuk kepemimpinan setelah Ertuğrul meninggal. Mengenai hierarki kekuasaan, pada awalnya Osman berada di bawah kekuasaan Adipati Choban di Kastamonu, kemudian di bawah Sultan Seljuk melalui Adipati Germiyan di Kütahya—yang pada gilirannya tunduk kepada Ilkhan Mongol di Tabriz. Pada masa itu, Sultan Seljuk telah kehilangan kendali atas para bey atau amir bawahannya, sementara Ilkhan Mongol menjalankan kekuasaannya di Anatolia melalui para jenderal yang ditunjuknya dan mewajibkan setiap penguasa setempat untuk mengirimkan pasukan saat dibutuhkan, termasuk Osman.[16]

Osman menunjukkan kecerdasan politik sejak awal masa pemerintahannya dengan menjalin hubungan dengan para penguasa tetangga. Kerja sama Osman melampaui batas suku, etnis, dan agama, seperti persekutuannya dengan para tekfur (gubernur bawahan Romawi) di wilayah perbatasan. Setiap kali suku Osman berpindah antara daerah penggembalaan di musim panas, mereka meninggalkan barang-barang mereka di benteng Romawi Bilecik. Setelah kembali, mereka memberikan hadiah kepada para tekfur berupa keju dan mentega yang terbuat dari susu domba dan diawetkan dalam kulit binatang, atau karpet wol bermutu tinggi. Perjanjian ini menunjukkan keselarasan di antara para penggembala, petani, dan penduduk kota selama pemerintahan Osman.[17] Köse Mihal (Mikhail Kosses) yang merupakan tekfur daerah Chirmenkia (Harmanköy) adalah salah satu sekutu dekat Osman.

Sang Bey juga menjalin persekutuan dengan klan-klan Turkmen yang baru tiba di Anatolia. Pada umumnya, kaum nomaden memiliki semangat militer yang kuat dibandingkan dengan penduduk yang menetap di kota. Mereka kemudian menjadi tulang punggung provinsi-provinsi perbatasan Seljuk secara keseluruhan, dan khususnya bagi kadipaten pimpinan Osman. Osman juga menarik banyak orang Turkmen dari wilayah Paflagonia di Anatolia utara untuk bergabung dengan pasukannya.[18]

Penaklukan Karacahisar

[sunting | sunting sumber]

Sekitar tahun 1286, Osman memimpin pasukan berkekuatan tiga ratus prajurit menuju Karacahisar, sebuah benteng yang terletak beberapa kilometer dari İnegöl, di kawasan Gunung Uludağ. Osman menyerang benteng tersebut pada malam hari dan berhasil menaklukkannya, sehingga memperluas wilayah kekuasaannya ke arah utara hingga mendekati Danau İznik. Pemimpin benteng tidak bersedia tunduk dengan Osman dan bersekutu dengan Gubernur Karacahisar, sehingga terjadi pertempuran lanjutan di daerah antara Bilecik dan İnegöl. Perang ini menewaskan saudara Osman, Savci Bey, dan komandan Romawi, Pilatos, dan berakhir dengan kemenangan di pihak Osman. Para sejarawan memiliki perbedaan pendapat mengenai tanggal penaklukan ini, tetapi umumnya mengerucut antara tahun 1286 sampai 1291.[19]

Kemenangan Osman mendapat pujian dari Sultan Seljuk Alauddin Kayqubad III karena keberhasilan Osman dipandang mewakili kepentingan Islam dan Seljuk. Kayqubad III juga menyerahkan pada Osman kekuasaan atas seluruh wilayah yang telah ditaklukkannya, serta kota Eskişehir dan İnönü. Selain itu, Alauddin Kayqubad mengeluarkan maklumat yang membebaskan Osman dari segala jenis pajak. Osman juga menerima sejumlah hadiah dari sultan yang mencerminkan kedudukan tingginya yang baru di istana Seljuk.[20] Maklumat tersebut juga memuat pengakuan atas hak Osman untuk disebutkan namanya dalam khotbah Jum'at di seluruh wilayah kekuasaannya, serta izin untuk mencetak mata uang atas namanya sendiri.[21] Pencantuman nama dalam mata uang dan penyebutan nama dalam khotbah Jum'at menjadi tanda bahwa orang tersebut diakui sebagai penguasa yang sah di kawasan tersebut. Urutan nama yang disebutkan dalam khotbah dari awal adalah Khalifah Abbasiyah yang bertakhta di Mesir, berperan menjadi pemimpin simbolis seluruh umat Muslim; disusul Ilkhan Mongol yang berpusat di Tabriz, selaku maharaja atas kawasan Asia Barat; diikuti Sultan Sejuk Rum yang bertakhta di Konya, sebagai raja atas kawasan Anatolia; barulah Osman sebagai adipati atau penguasa setempat.[16]

Penaklukan Yarhisar, Bilecik, dan İnegöl

[sunting | sunting sumber]

Sebagian menyatakan bahwa setelah penaklukan Karacahisar, Köse Mihal memberi peringatan Osman bahwa Tekfur Bilecik dan Yarhisar bersekutu untuk membunuh Osman setelah acara pernikahan putra-putri kedua tekfur tersebut. Osman menyusun rencana untuk meloloskan diri dari jebakan dan merebut benteng tersebut. Ia mengirim empat puluh prajuritnya untuk membawa sebagian harta milik klan agar disimpan di Bilecik, sementara sebagian besar penduduknya sedang berada di luar untuk menghadiri pesta pernikahan. Begitu pasukannya memasuki benteng, mereka dengan cepat melumpuhkan garnisun yang jumlahnya sedikit dan benteng itu pun jatuh ke tangan pihak Osman. Kemudian Osman pergi menghadiri pesta pernikahan, diikuti oleh beberapa ksatria Romawi yang belakangan dengan mudah disergap oleh pasukan Osman. Pertempuran singkat pun terjadi. Osman keluar sebagai pemenang dan sebagian besar pasukan Romawi tewas. Setelah itu, Osman bergerak menuju Yarhisar dan merebutnya melalui serangan mendadak; sebagian besar garnisun benteng tewas, sementara sisanya ditawan. Holofira, putri Tekfur Yarhisar yang awalnya dijodohkan dengan putra Tekfur Bilecik juga turut menjadi tawanan, kemudian menjadi menantu Osman.[22]

Setelah itu, Osman beserta sejumlah pasukannya menguasai seluruh kota dan desa di sekitar İnegöl, sebelum mengepung benteng tersebut dan merebutnya dengan mudah. ​​Osman memerintahkan eksekusi terhadap Tekfur İnegöl yang dikenal kerap menindas tetangga Muslimnya, lalu menempatkan garnisun baru di kota tersebut dan membagikan harta rampasan perang kepada anak buahnya.[22]

Perang dengan Romawi Timur

[sunting | sunting sumber]

Setelah meraih berbagai kemenangan, Osman berupaya meluaskan wilayahnya dengan mencaplok wilayah Romawi Timur yang berpusat di Konstantinopel. Pihak Romawi sendiri tidak mampu berbuat banyak lantaran perpecahan di Konstantinopel dan Balkan. Setelah Kesultanan Seljuk Rum makin melemah dan akhirnya lenyap, Osman yang berstatus sebagai adipati merdeka dan telah mengamankan benteng yang dia taklukan mengirimkan pesan ke berbagai tekfur di Anatolia untuk memeluk Islam atau membayar jizyah dan menerima Osman sebagai penguasa mereka atau berperang. Beberapa tekfur memilih menjadi Muslim, salah satunya Köse Mihal yang dikemudian hari berperan besar dalam perluasan wilayah Utsmani. Keturunan Köse Mihal dikenal dengan keluarga Mihaloğulları atau Mihalzâde dan menjadi sebuah keluarga berpengaruh di Utsmani sampai setidaknya abad keenam belas.[23][24]

Setelah kemenangannya melawan pihak Romawi Timur pada Pertempuran Bapheus, Osman memulai untuk mengatur pasukannya di dekat wilayah kekuasaan Romawi Timur.[25] Pengaruh Osman yang makin menguat membuat masyarakat Romawi Timur secara bertahap keluar menuju seberang Anatolia. Para pemimpin Romawi Timur berusaha untuk menahan Osman, tapi persiapan mereka sangat buruk dan tidak efektif. Di sisi lain, Osman menghabiskan sisa masa kekuasaannya untuk meluaskan wilayahnya melalui dua arah, yakni sebelah utara sepanjang Sungai Sarkaya dan barat daya menuju Laut Marmara, dan dia berhasil pada 1308.[26] Pada tahun yang sama, para pengikutnya turut serta dalam penaklukan salah satu kota Romawi, Ephesus, dan menduduki kota tepi pantai terakhir milik Romawi, meskipun kota itu menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Adipati Aydin.[25]

Akhir kekuasaan

[sunting | sunting sumber]
Makam Osman Ghazi di Bursa

Perang Osman terakhir adalah menduduki Bursa.[27] Meskipun Osman tidak secara langsung terjun ke medan laga, keberhasilan menduduki Bursa membuktikan betapa pentingnya kedudukan kota tersebut sebagai pijakan untuk melawan Romawi Timur di Konstantinopel. Menurut sebagian sumber, Osman meninggal tepat sebelum pasukannya berhasil menduduki Bursa,[28] tetapi pendapat lain menyatakan bahwa Osman masih sempat menerima berita jatuhnya Bursa di ranjang kematiannya.[29][30][31] Bursa kemudian dijadikan ibu kota pada masa kekuasaan putra dan penerus Osman, Orhan.

Meninggal

[sunting | sunting sumber]

Tanggal pasti meninggalnya Osman masih menjadi perdebatan. Sejarawan Utsmani abad ke-15, Rouhi Çelebi, menyebutkan bahwa Osman meninggal pada 1320. Sejarawan Uruç Adiloğlu yang hidup pada masa Sultan Mehmed II dan Bayezid II menyebutkan bahwa Osman meninggal pada 1327. Sejarawan modern Necdet Sakaoğlu menyatakan bahwa meski ketiadaan berkas-berkas resmi yang menyebut nama Osman setelah tahun 1320, terdapat berkas yang menunjukkan kenaikan takhta Orhan pada 1324.[32][33] Selain itu, terdapat kejelasan bahwa Osman meninggal setelah Syaikh Edebali dan putrinya, yang menjadi istri Osman, karena diketahui bahwa Osman menguburkan mereka berdua di Bilecik.[34]

Setelah meninggal, jasad Osman dibawa Orhan dan dimakamkan di Bursa yang merupakan ibukota Utsmaniyah yang baru.[35]

Berdasar penulis Utsmaniyah abad kelima belas, Osman termasuk keturunan suku Kayı yang merupakan cabang Oghuz Turk dan ini menjadi silsilah resmi Utsmaniyah.[36]

Orang tua

[sunting | sunting sumber]

AyahErtuĝrul, kepala suku Kayı, suku bangsa Turk Oghuz. Terdapat perbedaan pendapat mengenai latar belakangnya. Menurut tradisi Utsmani, ayah Ertuĝrul adalah Suleyman Syah. Namun ada juga yang menyatakan bahwa ayahnya adalah Gündüz Alp.[37][38][39]

IbuHalime Hatun. Secara tradisi dan legenda, ada yang menyebutkan bahwa Halime masih keturunan penguasa Seljuk, sementara ada juga yang menyatakan bahwa dia berasal dari Kara Koyunlu, negara Muslim Turki-Persia yang wilayahnya mencakup Anatolia Timur dan Kaukasus.[40][41][42][43] Belum ada sumber sejarah sahih yang mendukung berbagai pernyataan ini.[44]

Pernikahan

[sunting | sunting sumber]

Ada dua nama yang disebutkan merupakan istri Osman, yakni:

Mengenai latar belakang mereka, disebutkan bahwa salah satunya adalah putri dari Syaikh Edebali, sedangkan yang satu lagi adalah putri dari sosok bernama Ömer Bey. Ada yang menyebutkan bahwa Ömer Bey adalah salah satu adipati di kawasan Anatolia, sedangkan pendapat lain menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah Ömer Abdülaziz Bey, seorang wazir (menteri) pada masa Kesultanan Seljuk. Latar belakang kedua istri Osman ini sering tertukar sehingga kerap terjadi kerancuan. Sebagian sumber menyebutkan bahwa putri Syaikh Edebali adalah Bala Hatun, menjadikan Malhun Hatun sebagai putri Ömer Bey. Namun ada juga yang menyatakan sebaliknya, bahwa Malhun Hatun yang merupakan putri Syaikh Edebali.[45][46][47]

  • Alaeddin Bey, wazir agung Utsmaniyah pertama
  • Orhan Bey, pemimpin Utsmaniyah kedua[44]
  • Çoban Bey[48]
  • Melik Bey[48]
  • Hamid Bey[48]
  • Pazarli Bey[48]
  • Savci Bey. Savci memiliki putra, Suleyman, yang menikah dengan putri Orhan, Hatice
  1. 1 2 Kermeli, Eugenia (2009). "Osman I". Dalam Ágoston, Gábor; Masters, Bruce (ed.). Encyclopedia of the Ottoman Empire. hlm. 444. Informasi yang dapat dipercaya mengenai Osman sangat langka. Tanggal lahirnya tidak diketahui dan signifikansi simbolisnya sebagai bapak dinasti telah mendorong perkembangan cerita mitis mengenai kehidupan dan asal-usul penguasa; tetapi, para sejarawan setuju bahwa sebelum tahun 1300, Osman hanyalah salah satu di antara sejumlah pemimpin suku Turkoman yang beroperasi di wilayah Sakarya.
  2. Murphey, Rhoads (2008). Exploring Ottoman Sovereignty: Tradition, Image, and Practice in the Ottoman Imperial Household, 1400-1800. London: Continuum. hlm. 24. ISBN 978-1-84725-220-3. Sebuah catatan yang masuk akal, masuk akal dan, di antara rekan-rekannya, mungkin paling dapat diandalkan tentang awal karir Osman oleh paragon sejarawan Ottoman, Kemal Paşa-zade (1468-1534), mengidentifikasi tahun Hijriah 652 (21 Februari 1254 hingga 9 Februari 1255). sebagai tanggal lahir Osman.
  3. Kafadar, Cemal (1995). Between Two Worlds: The Construction of the Ottoman State. hlm. 16.
  4. Akgündüz, Ahmed; Öztürk, Said (2011). Ottoman History - Misperceptions and Truths (dalam bahasa Inggris). IUR Press. hlm. 35. ISBN 978-90-90-26108-9. Diakses tanggal 28 Desember 2019.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. Kafadar, Cemal (1995). Between Two Worlds: The Construction of the Ottoman State. hlm. 16. By the time of Osman's death (1323 or 1324)...
  6. Kafadar, Cemal (1995). Between Two Worlds: The Construction of the Ottoman State. hlm. xii. There is still not one authentic written document known from the time of ʿOsmān, and there are not many from the fourteenth century altogether.
  7. Kafadar, Cemal (1995). Between Two Worlds: The Construction of the Ottoman State. hlm. 93.
  8. Finkel 2005, hlm. 6.
  9. 1 2 Finkel 2005, hlm. 12.
  10. Murphey, Rhoads (2008). Exploring Ottoman Sovereignty: Tradition, Image, and Practice in the Ottoman Imperial Household, 1400-1800. London: Continuum. hlm. 24. ISBN 978-1-84725-220-3.
  11. 1 2 Stanford Shaw, History of the Ottoman Empire and Modern Turkey (Cambridge: University Press, 1976), vol. 1 ISBN 9780521291637, p. 13
  12. Kermeli, Eugenia (2009). "Osman I". Dalam Ágoston, Gábor; Bruce Masters (ed.). Encyclopedia of the Ottoman Empire. hlm. 445.
    • Imber, Colin (1987). "The Ottoman Dynastic Myth". Turcica. 19: 7–27. The attraction of Aşıkpasazade's story was not only that it furnished an episode proving that God had bestowed rulership on the Ottomans, but also that it provided, side by side with the physical descent from Oguz Khan, a spiritual descent. [...] Hence the physical union of Osman with a saint's daughter gave the dynasty a spiritual legitimacy and became, after the 1480s, an integral feature of dynastic mythology.
  13. Lindner 1983, hlm. 37.
  14. Finkel, Caroline (2006). Osman's Dream: The Story of the Ottoman Empire, 1300-1923. Basic Books. hlm. 2. ISBN 978-0-465-02396-7. First communicated in this form in the later fifteenth century, a century and a half after Osman's death in about 1323, this dream became one of the most resilient founding myths of the empire.
  15. Kafadar, Cemal (1995). Between Two Worlds: The Construction of the Ottoman State. hlm. 132–3.
  16. 1 2 Öztuna 1988, hlm. 91.
  17. Kafadar 1999, hlm. 65–66.
  18. Taqqusy 2013, hlm. 25-28.
  19. Shaw 1976, hlm. 13–14.
  20. Akgündüz 2008, hlm. 46.
  21. Dehaisy 1995, hlm. 26–27.
  22. 1 2 Müneccimbaşı 2009, hlm. 229–231.
  23. Farīd 2006, hlm. 116.
  24. Babinger, hlm. 34–35.
  25. 1 2 Steven Runciman, The Fall of Constantinople 1453 (Cambridge: University Press, 1969) p. 32
  26. Shaw, Ottoman Empire, hlm. 14
  27. Runciman, The Fall of Constantinople, hlm. 33
  28. Nolan 2006, hlm. 100–101.
  29. Rogers 2010, hlm. 261.
  30. Hore 2003, hlm. 455.
  31. Pitcher 1972, hlm. 37.
  32. Armağan 2014, hlm. 11–17.
  33. Sakaoğlu 1999, hlm. 392–395.
  34. "Osman Gazi ikinci eşi Bala Hatun kimdir türbesi nerede?" [Siapa Bala Hatun, istri Osman Ghazi? Di mana makamnya?]. InternetHaber (dalam bahasa Turki). 2 Juni 2021. Diakses tanggal 13 Agustus 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  35. Sarhank 1988, hlm. 14.
  36. Kafadar, Cemal (1995). Between Two Worlds: The Construction of the Ottoman State. hlm. 10, 37.
  37. İnalcık, Halil (2007). "Osmanlı Beyliği'nin Kurucusu Osman Beg (Osman Beg, The founder of Ottoman Dynasty)". Belleten (dalam bahasa Turki). 7 (261). Ankara: 483, 487–490.
  38. İnalcık, Halil, 2007; sf. 489.
  39. İnalcık, Halil, 2007; sf. 490.
  40. Darke, Diana (2011). Eastern Turkey. ISBN 9781841623399.
  41. "Controversial new building slammed as 'visual pollution' at 700-year-old Seljuk tomb". Hürriyet Daily News. Diakses tanggal 12 Maret 2020.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  42. Farson, Daniel (1985). A traveller in Turkey. hlm. 73. ISBN 9780710202819. Diakses tanggal 12 Maret 2020.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  43. Aslanapa, Oktay (1971). Turkish Art And Architecture. hlm. 171–172. ISBN 9780571087815.
  44. 1 2 Lowry 2003, hlm. 153.
  45. "Bala Hatun: Rabia Bala Hatun yahut Mal Hatun". arkeolojikhaber.com.
  46. Sakaoğlu, Necdet [in Turki] (2008). Bu mülkün kadın sultanları: Vâlide sultanlar, hâtunlar, hasekiler, kadınefendiler, sultanefendiler. Oğlak Publications. hlm. 29. ISBN 978-9-753-29623-6..
  47. "Consorts Of Ottoman Sultans (in Turkish)". Ottoman Web Page.
  48. 1 2 3 4 5 Lowry 2003, hlm. 73.

Daftar pustaka

[sunting | sunting sumber]
Osman I
Lahir: Tidak diketahui Meninggal: 1323/4
Gelar
Didahului oleh:
Ertuğrul
Adipati Söğüt
di bawah Kesultanan Rum Seljuk

sekitar 1281 – sekitar 1299
Osman memerdekakan diri
dari Kesultanan Rum
Jabatan baru
Sultan (Adipati) Utsmaniyah
sekitar 1299 – 1323/4
Diteruskan oleh:
Orhan