Showing posts with label adab. Show all posts
Showing posts with label adab. Show all posts
Tuesday, May 22, 2012
Sunday, February 5, 2012
Tips Menjaga Lisan
Posted by lianazulak
On 4:53 AM
Muslim yang paling baik adalah, “Seseorang yang membuat muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya” (HR Muslim). Mereka menjaga lisannya dari segala ucapan yang boleh menyakiti hati orang.
Tidak menghina. "Hai orang-orang yang beriman! Janganlah segolongan kalian menghina golongan yang lain, boleh jadi (mereka yang dihina) lebih baik (dari yang menghina)" (Al Hujurat 49:11).
Tidak su’udzon. Selalu husnudzan (berbaik sangka). “…jauhilah kebanyakan prasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa” (Al Hujurat: )
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia mengucapkan kata-kata yang baik atau diam” (HR Bukhari Muslim). Bila bicara dan diam sama maslahatnya, maka sunnahnya adalah diam. Pembicaraan yang mubah biasa masuk dalam pembicaraan yang haram/dibenci”.
“Setiap ucapan Bani Adam membahayakan dirinya, kecuali amar ma’ruf nahi munkar dan Dzikrullah” (HR Trimidzi)
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal soleh dan berkata, “ Sesungguhnya aku termasuk muslim.” (Al Fushilat : 33)
Dengarkan pembicaraan yang haq. Jika mendengar kebatilan, kita harus menolong orang yang zalim dan dizalimi dengan mengalihkan pembicaraan, menghentikan, atau meninggalkannya.
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan mereka kecuali bisikan dari orang yang menyuruh bersedekah, berbuat ma'ruf, atau perdamaian di antara manusia” (4:114)
Imam Asy-Syafi'I berkata, "Berfikirlah dahulu sebelum bicara. Jika maslahat bicaralah. Jika mudarat/ragu-ragu, diamlah. Manusia diberi dua telinga dan satu mulut supaya lebih banyak mendengar daripada bicara.
“Tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali diam namun berfikir atau berbicara dengan ilmu.” Sufyan Ats-Tsauri
Ibnu As-Sammak berkata, "Binatang buasmu ada di lisanmu, kerana biasa menfitnah siapa saja yang lewat di depanmu, kecuali tiga hal yang menghalangimu; menyebut perkara yang ada padamu, menyebut perkara dimana kesalahanmu lebih darinya, menyebut urusan dimana Allah telah memaafkanmu.
"…berkatalah dengan perkataan yang benar". (Al Baqarah:263)
Berkata sesuai tempatnya. Tiap-tiap perkataan ada tempat terbaiknya dan tiap-tiap tempat ada perkataan terbaiknya.
Tidak kasar dalam berbicara. Hati-hatilah, kadang kala kelihatannya seperti memberi nasihat tetapi ternyata mencaci maki (mengutuk/mencela) anak/suami/istri/murid/bawahan.. Ketika ada orang kafir terbunuh dalam perang Badar, Nabi bersabda : "Janganlah kamu memaki mereka, kerana dapat menyakiti orang-orang yang hidup" (HR An Nasai)
Berkata yang bermanfaat. "Diantara tanda kebaikan akhlak muslim adalah meninggalkan apa yang tidak perlu"(HR Tirmidzi). "Demi Allah Aku tidak suka menceritakan tentang seseorang". (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
Wednesday, January 11, 2012
Jenis-jenis Kejahatan Lisan
Posted by lianazulak
On 2:24 PM
Rasululloh saw bersabda: …beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya sedikitpun, solat, zakat, puasa Ramadhan dan haji. Pintu-pintu surga adajah puasa, sedekah dan solat malam. Pokok segala perkara adalah Islam, tiangnya adalah solat dan puncaknya adalah Jihad. Sesuatu dapat membuat kalian memiliki semua itu. Rasulullah memegang lidahnya lalu bersabda: Jagalah ini. Muadz bertanya: Ya Nabi, apakah kita akan dihukum atas apa yang kita ucapkan? Beliau bersabda: …adakah yang menyebabkan seseorang terjungkal wajahnya di neraka selain buah dari lisan mereka (HR Tirmizi)
Sahabat bertanya tentang seorang wanita ahli solat malam namun suka menganggu tetangga dengan lisannya. Rasulullah berkata,” Dia di neraka!” Kemudian sahabat bertanya tentang seseorang yang sedikit ibadahnya namun tidak suka menganggu tetangga dengan lisannya. Rasulullah bersabda,”Dia di surga!”.
Hati-hati dengan Lisan
Lisan jauh lebih tajam dari pedang. Luka kerana pedang dapat disembuhkan. Luka kerana lisan akan terus terkenang. Doa orang yang terzalimi cepat diijabah Allah.
“Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah dua lubang, iaitu mulut dan farji” (HR Tirmidzi).
“Orang yang paling banyak dosanya di hari kiamat adalah orang yang paling banyak terlibat dalam pembicaraan batil” (HR Ibnu Abiddunya.)
"Tidak istiqomah iman seseorang sebelum istiqomah hatinya, dan tidak akan istiqomah hatinya sebelum istiqomah lisannya"(HR Ahmad).
Kejahatan Lisan
Lisan menimbulkan 2 bencana besar.
Pertama: diam terhadap kebenaran.“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika dia tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya…”.
Kedua: bicara yang batil. Kejahatan lisan bermacam-macam bentuknya.
Ghibah. "Engkau membicarakan saudaramu tentang hal yang dia benci. Jika
benar ada padanya maka engkau telah ghibah…" (HR. Muslim). Ghibah termasuk dosa besar yang tak diampuni Allah sebelum dimaafkan oleh orang yang diceritakan. Ketika mi'raj, Rasul melihat kaum yang berkuku tembaga mencakar wajah dan dada mereka. Jibril mengatakan: “Mereka telah memakan daging orang dan mencela kehormatan orang”.
Di masa Rasulullah saw ada 2 wanita yang hampir pengsan kerana puasa Ramadhan. Ketika ditanyakan tentang kebolehan membatalkan puasa, beliau malah memberi mangkuk dan memerintahkan untuk memuntahkan apa yang telah mereka makan ke dalam mangkuk. Mereka memuntahkan darah segar dan daging lunak hingga mangkuk penuh. Mereka membatalkan puasa dengan melakukan larangan Alloh, iaitu bergossip.
Fitnah (membicarakan aib orang tetapi tidak ada faktanya), dosanya lebih keji daripada membunuh (Al-Baqarah:217).
Naminah/adu domba (menyebarkan ucapan satu kaum kepada kaum yang lain untuk merusak keduanya). "Tidak akan masuk surga orang yang mengadu domba” (HR Bukhari)
Mengutuk/melaknat. “Siapa yang melaknat seorang Mukmin maka ia seperti membunuhnya” (HR Bukhari). Ucapan laknat biasa kembali kepada orang yang mengucapkannya”.
Mencela/mencaci Maki. “Janganlah kalian mencaci orang-orang yang telah meninggal kerana mereka telah menemui (balasan dari) perbuatan mereka.” (HR Bukhari).”
Para sahabat bertanya : “Bagaimana seseorang mencaci maki orang tua sendiri? Jawab Nabi: “Dia mencaci maki orang tua orang lain, lalu orang itu berbalik mencaci maki orang tuanya”(HR Ahmad). “Jika ada orang yang mencela kekuranganmu, jangan kau balas dengan mencela kekurangannya. Maka dosanya ada padanya dan pahalanya ada padamu. Janganlah kamu mencaci maki siapapun” (HR Ahmad.)
“Tidak tersesat suatu kaum setelah mendapat hidayah kecuali mereka berdebat” (HR Tirmidzi).
Imam Malik berkata : “Perdebatan akan mengeraskan hati dan mewariskan kekesalan”.
“Orang yang paling dibenci Allah adalah yang suka bermusuhan dan bertengkar”(HR Al Bukhari)
“Orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku di hari kiamat adalah yang buruk akhlaknya, iaitu banyak bicara, menekan-nekan suara, dan menfasih-fasihkan kata”(HR Ahmad)
“Orang mukmin bukanlah orang yang suka menghujah, mengutuk, berkata keji dan mencarut.” (HR Tirmidzi)
“Barang siapa yang mencela dosa saudaranya yang telah bertaubat, maka ia tidak akan mati sebelum melakukannya” (HR Tirmidzi).
“Jangan mencela makanan yang sudah tersaji” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)
Menceritakan rahasia suami-isteri. “Orang yang paling buruk tempatnya di hari kiamat, adalah laki-laki yang telah bergaul dengan isterinya, kemudian ia ceritakan rahasianya”(HR. Muslim)
“Dusta akan mendorong untuk curang. Kecurangan akan mendorong ke neraka. Orang yang berdusta akan terus berdusta hingga dicatat Allah sebagai pendusta” (Muttafaq alaih.).
"Tiga ciri orang munafik, apabila bicara berdusta, apabila berjanji mengingkari dan apabila dipercaya berkhianat” (HR Bukhari dan Muslim).
Qotadah berkata, “Jangan mengatakan ‘Aku melihat demikian’ padahal tidak melihatnya, ‘Aku mendengar demikian’ padahal tidak mendengarnya, ‘Aku tahu demikian’ padahal tidak mengetahuinya”.
Gurauan bohong. “Ada orang yang mengucapkan kata-kata agar teman-temannya tertawa namun kata-kata itu menjerumuskannya (ke neraka)…”(HR Ahmad).
“Celaka orang berbicara dusta untuk ditertawakan orang…”
(HR Abu Dawud dan At Tirmidzi).
“Jauhilah olehmu perbuatan hasut, kerana menghilangkan kebaikan seperti api memakan kayu bakar”.
Tuesday, December 27, 2011
Wednesday, November 9, 2011
Cara Hidup Sihat Rasulullah
Posted by lianazulak
On 1:39 AM
1. Selalu bangun sebelum subuh.
Baginda mengajak umatnya untuk sebelum bangun subuh dan mengerjakan solat sunat, solat subuh secara berjemaah. Hikmahnya ialah mendapat limpahan pahala, kesegaran udara subuh yang baik terutama untuk merawat penyakit tibi serta menajamkan akal fikiran.
2. Aktif menjaga kebersihan.
Baginda selalu bersih dan rapi. Setiap khamis atau jumaat, baginda akan mencuci rambut halus di pipi, memotong kuku, bersikat serta memakai minyak wangi.
3. Tidak makan berlebihan.
Dalam tubuh manusia ada 3 ruang untuk tiga benda, udara, air dan makanan. Kebaikan berpuasa yang diwajibkan untuk umat islam adalah untuk menyeimbangkan kesihatan, baginda juga selalu berpuasa sunat. Sabda Rasulullah s.a.w “Kami adalah satu kaum yang tidak makan sebelum lapar dan apabila kami makan tidak terlalu banyak (sampai kenyang)”
4. Gemar bejalan kaki.
Baginda berjalan kaki ke masjid, pasar, medan jihad dan rumah sahabat. Dengan berjalan kaki, peluh akan mengalir liang roma terbuka dan peredaran darah menjadi lancar dan baik untuk mencegah penyakit jantung.
5. Tidak pemarah.
Marah itu dari syaitan, segerlah mengambil wuduk dan solat 2 rakaat bagi ketenanan dan menghilangkan gundah hati. Kekuatan muslim bukan terletak pada jasad, tetapi lebih kepada kekuatan dan kebersihan jiwa. Muslim yang baik juga adalah mereka yang mampu mengawal sifat marah kerana itu sebahagian dari cara hidup sihat rasulullah.
6. Optimis dan tidak berputus asa.
Sikap optimis akan memberikan kesan emosional yang mendalam bagi kelapangan jiwa selain perlu memperbanyakkan sabar, istiqamah, bekerja keras serta tawakal kepada Allah s.w.t
7. Tidak iri hati.
Cara hidup sihat rasulullah seterunya ialah menjaga kestabilan hati dan kesihatan jiwa, sikap iri hati perlu dihindarkan.
8. Pemaaf.
Sifat yang dituntut bagi mendapatan ketenteraman hati dan jiwa. Memaafkan orang lain akan dapat membebaskan diri dari dibelenggu rasa bersalah. Apabila kita marah, sifat marah itu akan melekat dalam hati. Jadilah pemaaf untuk membersihkannya. Bahagia sebenarnya bukan mendapat, tetapi memberi.
Monday, July 11, 2011
AMALAN ISLAM YANG DILUPAKAN
Posted by lianazulak
On 7:45 AM
Islam itu asing dan akan kembali asing. Islam itu datangnya membawa perbezaan dan kalau Islam itu diamalkan kembali, ia juga akan membawa perbezaan. Islam itu lain daripada yang lain. Ketika awalnya dahulu, Islam itu terpinggir, jauh tersisih dari cara hidup orang-orang Arab jahiliah. Di akhir zaman ia juga terpinggir. Cara hidup Islam yang sejati jauh tersisih dari cara hidup umat Islam di zaman jahiliah moden ini.
Al-Quran itu dinamakan juga Al Furqan atau "yang membezakan". Siapa yang mengamalkan Al Quran, maka cara hidupnya akan berbeza dengan orang yang tidak mengamalkan Al Quran. Siapa yang banyak meninggalkan ajaran Al Quran, maka Islamnya tidak syumul. Hari ini, sendi-sendi kehidupan umat Islam sudah terlalu banyak yang rosak. Sudah tidak kelihatan lagi ciri-ciri dan amalan Islam di dalam kehidupan umat Islam. amalan-amalan Islam banyak yang telah dilupakan dan ditinggalkan. Ia telah digantikan dengan amalan-amalan yang ditiru, diciduk dan dijiplak dari amalan para penjajah, orang-orang Barat, Yahudi dan Nasrani.
Di zaman Rasulullah SAW dan para sahabat, kalau diibaratkan ilmu Islam itu ada sepuluh, amalan umat Islam ketika itu juga ada sepuluh. Oleh kerana itu, ketika itu Islam syumul dan terlaksana di semua bidang kehidupan. Pada zaman selepas tabit tabiin, ilmu Islam tetap ada sepuluh tetapi amalannya sudah berkurang menjadi sembilan. Ketika itu, Islam masih kelihatan syumul. Pada zaman tiga ratus tahun hingga tujuh ratus tahun umur Islam, yaitu di saat imperium Islam masih wujud, amalan Islam terus berkurang walaupun ilmunya tetap sepuluh.
Pada era setelah tujuh ratus tahun hingga sekarang ini, yaitu di saat imperium Islam telah runtuh dan umat Islam mulai dijajah oleh kuasa-kuasa Barat, amalan dan cara hidup Islam semakin banyak ditinggalkan dan diganti dengan amalan-amalan dan cara hidup penjajah. Sekarang ini, tidak salah kalau kita anggarkan bahwa perbandingan amalan Islam hanya tinggal satu walaupun ilmunya tetap sepuluh, sama seperti di zaman Rasulullah SAW dahulu. Ilmu Islam tidak rusak. Ilmu Islam tidak berkurang. Ilmu Islam tidak susut. Yang menjadi kurang, rusak dan susut ialah amalannya yang sudah banyak ditinggalkan dan dilupakan oleh umat Islam. Maka terbuktilah kebenaran firman Allah yang berbunyi:
Amalan yang tinggal di waktu ini hanyalah apa yang termaktub di dalam rukun Islam. Itu pun karena ia dijadikan rukun. Kalau tidak, mungkin amalan-amalan tersebut dilupakan juga. Amalan-amalan yang menjadi rukun ini, kalau tidak diyakini dan diamalkan, maka akan mempengaruhi keimanan. Kerana itulah, masih ada umat Islam yang sholat walaupun banyak yang sudah meninggalkan solat atau tidak tahu bagaimana hendak solat. Masih ada umat Islam yang berpuasa di bulan Ramadhan. Masih ada umat Islam yang membayar zakat dan masih ada yang menunaikan haji. Amalan-amalan lain yang tidak merupakan rukun, hampir lenyap ditelan zaman.
Itulah sebab Islam tidak syumul lagi di zaman ini. Itulah sebab orang Islam tidak banyak bezanya dengan orang bukan Islam baik lahir maupun batinnya. Itulah sebab umat Islam sudah hilang identiti mereka. Kecantikan dan keindahan Islam sudah tidak dapat dilihat lagi. Keselamatan dan kesejahteraan yang dijanjikan oleh Islam tidak dapat dirasakan lagi. Umat Islam berpecah-belah. Akhlak dan moral umat Islam runtuh menyapu bumi. Masyarakat umat Islam kucar-kacir. Ekonomi umat Islam mundur. Umat Islam juga sudah tidak dihormati dan disegani tetapi justru dikeji dan dihina di seluruh dunia. Kebanyakan umat Islam hari ini hanya Islam pada keyakinan tetapi tidak Islam pada amalan. Lain yang diyakini, lain pula yang diamalkan. Mereka mengaku Islam tetapi cara hidup, cara berfikir dan cara menilai sangat kebarat-baratan.
Bila dikembalikan semula amalan-amalan Islam yang telah ditinggalkan dan dilupakan, masyarakat menjadi huru hara. Banyak mata yang terbuka lebar. Banyak yang terkejut. Banyak yang terpekik terlolong menuduh sesat. Sedih. Umat Islam sendiri sudah tidak kenal Islam. Islam hanya tinggal rukun. Islam pada mereka hanya solat, puasa, zakat dan haji. Umat Islam sudah lupa berpakaian cara Islam. Mereka sudah lupa itu apa aurat. Mereka sudah lupa makan minum dan bergaul secara Islam. Mereka sudah lupa berekonomi, menjalankan pelajaran dan pendidikan, berkebudayaan, bermasyarakat dan berpolitik secara Islam. Mereka sudah lupa bersahabat dan bertetangga secara Islam. Mereka sudah lupa berhibur secara Islam. Mereka sudah lupa tentang batas-batas yang ditetapkan oleh Islam.
Apabila ditonjolkan pakaian secara Islam yang menutup aurat, mereka terkejut. Pakaian sunnah berserban mereka tidak tahu. Makan cara Islam di dalam talam, makan bergaram dan duduk bersimpuh, mereka merasa aneh. Pada masa yang sama, mereka memandang amalan poligami itu hina padahal itu adalah satu amalan yang mulia dan merupakan sebagian dari syariat Islam dan menjadi amalan Rasulullah. Bahkan poligami adalah tradisi bagi orang-orang soleh. Mereka tidak memandang salah atau hina bila muda mudi bergaul bebas atau berjalan berdua-duaan ke sana ke mari. Narkotik, arak, zina dan judi yang berlaku di tengah-tengah masyarakat dipandang ringan dan dianggap sebagai perkara biasa atau sebagai masalah individu yang orang lain tidak perlu ikut campur. Itu belum lagi berbicara tentang berekonomi secara Islam yang menentang penindasan, riba, monopoli dan pembaziran yang sangat berbeda dengan sistem kapitalis yang diamalkan yang hanya mementingkan untung berlipat ganda tanpa mengira halal atau haram. Ataupun soal pelajaran dan pendidikan Islam yang membawa manusia kepada Tuhan dan bukan kepada kebendaan. Atau soal kebudayaan Islam yang membawa kesadaran dan membina kehalusan akhlak manusia dan bukan yang melalaikan, merusakkan akidah, akhlak, moral dan yang menggalakkan pergaulan bebas muda mudi dan penggunaan narkotik. Sistem sosial Islam yang berkasih sayang, bertolong bantu, kuat menguatkan, bersatu padu dan penuh dengan kebajikan, kesejahteraan dan keselamatan dan bukan sistem sosial yang menindas dan menekan, hidup nafsi-nafsi, yang kuat timbul yang lemah tenggelam seperti kehidupan hewan di belantara atau seperti pohon di hutan yang berebut meninggikan pucuk masing-masing untuk mendapatkan cahaya matahari. Dan juga sistem pentadbiran Islam yang menyatu-padukan umat, yang adil, yang bebas dari krisis, pilih kasih dan perebutan kuasa, yang melagangkan ketuhanan dan bukan ideologi ciptaan manusia dan yang mementingkan pembangunan insan dan rohaniah lebih dari pembangunan material. Sudah begitu jauh cara hidup umat Islam kini dari cara hidup Islam yang sebenar. Cara hidup musuh dianggap Islam, cara hidup Islam dimomok dan dikatakan ketinggalan zaman.
Untuk menebus kembali harga diri umat Islam yang sudah punah ini, untuk membawa Islam kembali gemilang dan untuk menjadikan umat Islam ini pewaris bagi bumi Allah ini, maka kita perlu tingkatkan amalan Islam kita. Kita perlu hidupkan kembali segala amalan-amalan Islam yang telah lama kita tinggalkan dan kita lupakan. Umat Islam perlu kembali kepada amalan Islam yang sejati. Kalaulah amalan Islam kita pada hari ini diibaratkan hanya satu dari sepuluh ilmu Islam yang ada, marilah kita tingkatkan amalan kita itu menjadi dua, tiga, empat, lima dan seterusnya sejauh yang kita mampu. Islam itu ialah iman, ilmu dan amal. Kalau tidak ada ketiga perkara ini, Islam tidak akan terlaksana. Islam akan hanya menjadi seperti benih yang belum ditanam. Pohonnya tidak ada. Kalau pohon Islam tidak ada, bagaimana mungkin kita dapat menikmati buahnya yang enak, lezat, dan manis.Dengan ketiga-tiga perkara ini juga yaitu iman, ilmu dan amal, Islam kita akan bertambah syumul dan bertambah syumul. Di atas kesyumulan inilah letaknya kasih sayang Tuhan. Di atas kesyumulan inilah letaknya nikmat, rahmat dan keampunan Tuhan.
Al-Quran itu dinamakan juga Al Furqan atau "yang membezakan". Siapa yang mengamalkan Al Quran, maka cara hidupnya akan berbeza dengan orang yang tidak mengamalkan Al Quran. Siapa yang banyak meninggalkan ajaran Al Quran, maka Islamnya tidak syumul. Hari ini, sendi-sendi kehidupan umat Islam sudah terlalu banyak yang rosak. Sudah tidak kelihatan lagi ciri-ciri dan amalan Islam di dalam kehidupan umat Islam. amalan-amalan Islam banyak yang telah dilupakan dan ditinggalkan. Ia telah digantikan dengan amalan-amalan yang ditiru, diciduk dan dijiplak dari amalan para penjajah, orang-orang Barat, Yahudi dan Nasrani.
Di zaman Rasulullah SAW dan para sahabat, kalau diibaratkan ilmu Islam itu ada sepuluh, amalan umat Islam ketika itu juga ada sepuluh. Oleh kerana itu, ketika itu Islam syumul dan terlaksana di semua bidang kehidupan. Pada zaman selepas tabit tabiin, ilmu Islam tetap ada sepuluh tetapi amalannya sudah berkurang menjadi sembilan. Ketika itu, Islam masih kelihatan syumul. Pada zaman tiga ratus tahun hingga tujuh ratus tahun umur Islam, yaitu di saat imperium Islam masih wujud, amalan Islam terus berkurang walaupun ilmunya tetap sepuluh.
Pada era setelah tujuh ratus tahun hingga sekarang ini, yaitu di saat imperium Islam telah runtuh dan umat Islam mulai dijajah oleh kuasa-kuasa Barat, amalan dan cara hidup Islam semakin banyak ditinggalkan dan diganti dengan amalan-amalan dan cara hidup penjajah. Sekarang ini, tidak salah kalau kita anggarkan bahwa perbandingan amalan Islam hanya tinggal satu walaupun ilmunya tetap sepuluh, sama seperti di zaman Rasulullah SAW dahulu. Ilmu Islam tidak rusak. Ilmu Islam tidak berkurang. Ilmu Islam tidak susut. Yang menjadi kurang, rusak dan susut ialah amalannya yang sudah banyak ditinggalkan dan dilupakan oleh umat Islam. Maka terbuktilah kebenaran firman Allah yang berbunyi:
"Dan sekali-kali tidak akan redha kaum Yahudi dan Nasrani itu kepada engkau ya Muhammad selagi kamu tidak mengikut cara hidup mereka."
(Surah Al-Baqarah: 120)
Itulah sebab Islam tidak syumul lagi di zaman ini. Itulah sebab orang Islam tidak banyak bezanya dengan orang bukan Islam baik lahir maupun batinnya. Itulah sebab umat Islam sudah hilang identiti mereka. Kecantikan dan keindahan Islam sudah tidak dapat dilihat lagi. Keselamatan dan kesejahteraan yang dijanjikan oleh Islam tidak dapat dirasakan lagi. Umat Islam berpecah-belah. Akhlak dan moral umat Islam runtuh menyapu bumi. Masyarakat umat Islam kucar-kacir. Ekonomi umat Islam mundur. Umat Islam juga sudah tidak dihormati dan disegani tetapi justru dikeji dan dihina di seluruh dunia. Kebanyakan umat Islam hari ini hanya Islam pada keyakinan tetapi tidak Islam pada amalan. Lain yang diyakini, lain pula yang diamalkan. Mereka mengaku Islam tetapi cara hidup, cara berfikir dan cara menilai sangat kebarat-baratan.
Bila dikembalikan semula amalan-amalan Islam yang telah ditinggalkan dan dilupakan, masyarakat menjadi huru hara. Banyak mata yang terbuka lebar. Banyak yang terkejut. Banyak yang terpekik terlolong menuduh sesat. Sedih. Umat Islam sendiri sudah tidak kenal Islam. Islam hanya tinggal rukun. Islam pada mereka hanya solat, puasa, zakat dan haji. Umat Islam sudah lupa berpakaian cara Islam. Mereka sudah lupa itu apa aurat. Mereka sudah lupa makan minum dan bergaul secara Islam. Mereka sudah lupa berekonomi, menjalankan pelajaran dan pendidikan, berkebudayaan, bermasyarakat dan berpolitik secara Islam. Mereka sudah lupa bersahabat dan bertetangga secara Islam. Mereka sudah lupa berhibur secara Islam. Mereka sudah lupa tentang batas-batas yang ditetapkan oleh Islam.
Apabila ditonjolkan pakaian secara Islam yang menutup aurat, mereka terkejut. Pakaian sunnah berserban mereka tidak tahu. Makan cara Islam di dalam talam, makan bergaram dan duduk bersimpuh, mereka merasa aneh. Pada masa yang sama, mereka memandang amalan poligami itu hina padahal itu adalah satu amalan yang mulia dan merupakan sebagian dari syariat Islam dan menjadi amalan Rasulullah. Bahkan poligami adalah tradisi bagi orang-orang soleh. Mereka tidak memandang salah atau hina bila muda mudi bergaul bebas atau berjalan berdua-duaan ke sana ke mari. Narkotik, arak, zina dan judi yang berlaku di tengah-tengah masyarakat dipandang ringan dan dianggap sebagai perkara biasa atau sebagai masalah individu yang orang lain tidak perlu ikut campur. Itu belum lagi berbicara tentang berekonomi secara Islam yang menentang penindasan, riba, monopoli dan pembaziran yang sangat berbeda dengan sistem kapitalis yang diamalkan yang hanya mementingkan untung berlipat ganda tanpa mengira halal atau haram. Ataupun soal pelajaran dan pendidikan Islam yang membawa manusia kepada Tuhan dan bukan kepada kebendaan. Atau soal kebudayaan Islam yang membawa kesadaran dan membina kehalusan akhlak manusia dan bukan yang melalaikan, merusakkan akidah, akhlak, moral dan yang menggalakkan pergaulan bebas muda mudi dan penggunaan narkotik. Sistem sosial Islam yang berkasih sayang, bertolong bantu, kuat menguatkan, bersatu padu dan penuh dengan kebajikan, kesejahteraan dan keselamatan dan bukan sistem sosial yang menindas dan menekan, hidup nafsi-nafsi, yang kuat timbul yang lemah tenggelam seperti kehidupan hewan di belantara atau seperti pohon di hutan yang berebut meninggikan pucuk masing-masing untuk mendapatkan cahaya matahari. Dan juga sistem pentadbiran Islam yang menyatu-padukan umat, yang adil, yang bebas dari krisis, pilih kasih dan perebutan kuasa, yang melagangkan ketuhanan dan bukan ideologi ciptaan manusia dan yang mementingkan pembangunan insan dan rohaniah lebih dari pembangunan material. Sudah begitu jauh cara hidup umat Islam kini dari cara hidup Islam yang sebenar. Cara hidup musuh dianggap Islam, cara hidup Islam dimomok dan dikatakan ketinggalan zaman.
Untuk menebus kembali harga diri umat Islam yang sudah punah ini, untuk membawa Islam kembali gemilang dan untuk menjadikan umat Islam ini pewaris bagi bumi Allah ini, maka kita perlu tingkatkan amalan Islam kita. Kita perlu hidupkan kembali segala amalan-amalan Islam yang telah lama kita tinggalkan dan kita lupakan. Umat Islam perlu kembali kepada amalan Islam yang sejati. Kalaulah amalan Islam kita pada hari ini diibaratkan hanya satu dari sepuluh ilmu Islam yang ada, marilah kita tingkatkan amalan kita itu menjadi dua, tiga, empat, lima dan seterusnya sejauh yang kita mampu. Islam itu ialah iman, ilmu dan amal. Kalau tidak ada ketiga perkara ini, Islam tidak akan terlaksana. Islam akan hanya menjadi seperti benih yang belum ditanam. Pohonnya tidak ada. Kalau pohon Islam tidak ada, bagaimana mungkin kita dapat menikmati buahnya yang enak, lezat, dan manis.Dengan ketiga-tiga perkara ini juga yaitu iman, ilmu dan amal, Islam kita akan bertambah syumul dan bertambah syumul. Di atas kesyumulan inilah letaknya kasih sayang Tuhan. Di atas kesyumulan inilah letaknya nikmat, rahmat dan keampunan Tuhan.
~Mari kita amalkan 10 Ciri-Ciri Fardhu Muslim dalam kehidupan kita~
Tuesday, June 28, 2011
Adab-Adab Seorang Murid Terhadap Gurunya
Posted by lianazulak
On 3:12 AM
Imam al Ghazali ada menulis berkenaan Adab Adab Seorang Murid Terhadap Gurunya. Berkata Imam Al-Ghazali:
“Jika engkau seorang murid maka beradablah kepada gurumu dengan adab yang mulia:
1. Apabila menemui gurunya maka hendaklah ia memberi salam kepadanya terlebih dahulu
2. Jangan membanyakkan bercakap-cakap di hadapan gurunya
3. Jangan ia bercakap-cakap sebelum gurunya bertanya kepadanya.
4. Jangan ia bertanya kepada gurunya sebelum ia meminta izin.
5. Jangan ia menyangkal (menunjukkan rasa tidak puas hati) terhadap perkataan gurunya seperti ia berkata sipulan itu menyalahi akan yang engkau kata itu.
6. Jangan ia mengisyaratkan kepada gurunya dengan menyalahi pendapatnya maka ia menyangka bahawa ia lebih mengetahui daripada gurunya.
7. Jangan ia berbisik dengan orang yang duduk ditepinya ketika gurunya memberikan pelajaran.
8. Jangan ia berpaling ke kiri dan ke kanan di hadapan gurunya tetapi hendaklah ia menundukkan kepalanya dengan penuh tenang lagi beradab seolah-olah dia sedang sembahyang.
9. Jangan ia membanyakkan soalan kepada gurunya ketika ia letih.
10. Apabila gurunya berdiri hendaklah ia berdiri untuk menghormatinya.
11. Jangan mengikuti gurunya dengan perkataan atau soalan ketika ia bangkit dari majlisnya.
12. Jangan bertanya kepada gurunya di tengah jalan sehingga ia sampai ke rumahnya atau ke tempat duduknya.
13. Jangan jahat sangka terhadap gurunya apabila ia melihat gurunya mengerjakan sesuatu pekerjaan yang pada zahirnya menyalahi ilmunya (bukan menyalahi agama) maka gurunya itu adalah lebih mengetahui dengan rahsia segala perbuatannya. Dalam hal ini hedaklah ia mengingati akan perkataan nabi Musa A.S. bagi Nabi Khidhir A.S. seperti yang disebutkan dalam Surah Al-Kahfi, ayat 71 yang maksudnya:
“Berkata (Nabi Musa kepada Nabi Khidhir): Apakah engkau rosakkan kapal ini untuk engkau menenggelamkan semua penumpangnya. Sesungguhnya engkau telah melakukan satu perbuatan yang mungkar.”
Maka hendaklah ia mengingati bahawa sebenarnya dia yang tersalah pada keingkaran itu. Kerana ia hanya memandang hukum yang zahir pada sisinya sahaja.
Friday, June 17, 2011
77 Cabang Iman
Posted by lianazulak
On 12:04 AM
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, “Iman itu memiliki tujuh puluh cabang (riwayat lain tujuh puluh tujuh cabang) dan yang paling utama ialah Laa ilaaha illa Allah, dan yang terendah ialah mebuang duri dari jalan. Dan malu juga merupakan salah satu cabang iman.” (Ashhabus Sittah).
Banyak ahli hadits yang menulis risalah mengenai cabang iman di antaranya ialah : Abu Abdillah Halimi rah a dalam Fawaidul Minhaj, Imam Baihaqi rah a dalam Syu’bul Iman, Syaikh Abdul Jalil rah a dalam Syu’bul Iman, Ishaq bin Qurthubi rah a dalam An Nashaih, dan Imam Abu Hatim rah a dalam Washful Iman wa Syu’buhu.
Para pensyarah kitab Bukhari rah a menjelaskan serta mengumpulkan ringkasan masalah ini dalam kitab-kitab tersebut. Walhasil pada hakikatnya iman yang sempurna itu mempunyai 3 (tiga) bagian :
1.Tashdiq bil Qalbi, yaitu meyakini dengan hati,
2.Iqrar bil Lisan, mengucapkan dengan lisan, dan
3.Amal bil Arkan, mengamalkan dengan anggota badan.
2.Iqrar bil Lisan, mengucapkan dengan lisan, dan
3.Amal bil Arkan, mengamalkan dengan anggota badan.
Cabang iman terbagi lagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu yang berhubungan dengan :
1) Niat, aqidah, dan amalan hati;
2) Lidah; dan
3) Seluruh anggota tubuh.
1. Yang Berhubungan dengan Niat, Aqidah, dan Hati
1) Beriman kepada Allah, kepada Dzat-Nya, dan segala sifat-Nya, meyakini bahwa Allah adalah Maha Suci, Esa, dan tiada bandingan serta perumpamaannya.
2) Selain Allah semuanya adalah ciptaan-Nya. Dialah yang Esa.
3) Beriman kepada para malaikat.
4) Beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada para Rasul-Nya.
5) Beriman kepada para Rasul.
6) Beriman kepada takdir yang baik maupun buruk, bahwa semua itu dating dari Allah.
7) Beriman kepada hari Kiamat, termasuk siksa dan pertanyaan di dalam kubur, kehidupan setelah mati, hisab, penimbangan amal, dan menyeberangi shirat.
8) Meyakini akan adanya Syurga dan Insya Allah semua mukmin akan memasukinya.
9) Meyakini neraka dan siksanya yang sangat pedih untuk selamanya.
10) Mencintai ALLAH
11) Mencintai karena Allah dan membenci karena Allah termasuk mencintai para sahabat, khususnya Muhajirin dan Anshar, juga keluarga Nabi Muhammad saw dan keturunannya.
12) Mencintai Rasulullah saw, termasuk siapa saja yang memuliakan beliau, bershalawat atasnya, dan mengikuti sunnahnya.
13) Ikhlash, tidak riya dalam beramal dan menjauhi nifaq.
14) Bertaubat, menyesali dosa-dosanya dalam hati disertai janji tidak akan mengulanginya lagi.
15) Takut kepada Allah.
16) Selalu mengharap Rahmat Allah.
17) Tidak berputus asa dari Rahmat Allah.
18) Syukur.
19) Menunaikan amanah.
20) Sabar.
21) Tawadhu dan menghormati yang lebih tua.
22) Kasih saying, termasuk mencintai anak-anak kecil.
23) Menerima dan ridha dengan apa yang telah ditakdirkan.
24) Tawakkal.
25) Meninggalkan sifat takabbur dan membanggakan diri, termasuk menundukkan hawa nafsu.
26) Tidak dengki dan iri hati.
27) Rasa malu.
28) Tidak menjadi pemarah.
29) Tidak menipu, termasuk tidak berburuk sangka dan tidak merencanakan keburukan atau maker kepada siapapun.
30) Mengeluarkan segala cinta dunia dari hati, termasuk cinta harta dan pangkat.
2. Yang Berhubungan dengan Lidah
31) Membaca kalimat Thayyibah.
32) Membaca Al Quran yang suci.
33) Menuntut ilmu.
34) Mengajarkan ilmu.
35) Berdoa.
36) Dzikrullah, termasuk istighfar.
37) Menghindari bicara sia-sia.
3. Yang berhubungan dengan Anggota Tubuh
38) Bersuci. Termasuk kesucian badan, pakaian, dan tempat tinggal.
39) Menjaga shalat. Termasuk shalat fardhu, sunnah, dan qadha’.
40) Bersedekah. Termasuk zakat fitrah, zakat harta, member makan, memuliakan tamu, serta membebaskan hamba sahaya.
41) Berpuasa, wajib maupun sunnah.
42) Haji, fardhu maupun sunnah.
43) Beriktikaf, termasuk mencari lailatul qadar di dalamnya.
44) Menjaga agama dan meninggalkan rumah untuk berhijrah sementara waktu.
45) Menyempurnakan nazar.
46) Menyempurnakan sumpah.
47) Menyempurnakan kifarah.
48) Menutup aurat ketika shalat dan di luar shalat.
49) Berkorban hewan, termasuk memperhatikan hewan korban yang akan disembelih dan menjaganya dengan baik.
50) Mengurus jenazah.
51) Menunaikan utang.
52) Meluruskan mu’amalah dan meninggalkan riba.
53) Bersaksi benar dan jujur, tidak menutupi kebenaran.
54) Menikah untuk menghindari perbuatan keji dan haram.
55) Menunaikan hak keluarga dan sanak kerabat, serta menunaikan hak hamba sahaya.
56) Berbakti dan menunaikan hak orang tua.
57) Mendidikan anak-anak dengan tarbiyah yang baik.
58) Menjaga silaturrahmi.
59) Taat kepada orang tua atau yang dituakan dalam agama.
60) Menegakkan pemerintahan yang adil
61) Mendukung jemaah yang bergerak di dalam kebenaran.
62) Mentaati hakim (pemerintah) dengan syarat tidak melanggar syariat.
63) Memperbaiki mu’amalah dengan sesama.
64) Membantu orang lain dalam kebaikan.
65) Amar makruh Nahi Mungkar.
66) Menegakkan hukum Islam.
67) Berjihad, termasuk menjaga perbatasan.
68) Menunaikan amanah, termasuk mengeluarkan 1/5 harta rampasan perang.
69) Memberi dan membayar utang.
70) Memberikan hak tetangga dan memuliakannya.
71) Mencari harta dengan cara yang halal.
72) Menyumbangkan harta pada tempatnya, termasuk menghindari sifat boros dan kikir.
73) Memberi dan menjawab salam.
74) Mendoakan orang yang bersin.
75) Menghindari perbuatan yang merugikan dan menyusahkan orang lain.
76) Menghindari permainan dan senda gurau.
Wednesday, June 15, 2011
‘Cermin’ Peribadi Daripada Makan
Posted by lianazulak
On 11:57 PM
MAKAN dalam keadaan duduk dan menggunakan tangan kanan. Rata-rata kita sebagai orang Melayu tahu bahawa itulah cara makan yang diamalkan sejak zaman nenek moyang kita dahulu. Bagaimanapun, mungkin ramai juga yang tidak tahu bahawa sebenarnya ia adalah amalan agama. Tepatnya, ajaran Islam dan menjadi amalan Nabi Muhammad s.a.w.
Ini disebabkan Islam adalah agama yang mencukupi semua aspek kehidupan, termasuk ehwal makan. Jadi, ada makanan halal dan ada yang haram. Islam juga menjelaskan kaitan makanan dengan perkembangan tubuh badan dan bagaimana ia mempengaruhi spiritual dan kesannya kepada emosi manusia.
1. Duduk adalah posisi yang paling baik untuk makan dan minum. Riwayat menyatakan bahawa Nabi s.a.w selalu makan dan minum dalam keadaan duduk. Hikmahnya: Tidak ada pakar kesihatan yang mengatakan bahawa makan hingga terlalu kenyang adalah baik untuk kesihatan kerana makan terlalu kenyang akan menjadikan tubuh badan tidak aktif dan otak menjadi layu dan lemah.
Untuk mengelakkan perkara ini, kita dianjurkan makan dalam keadaan duduk. Dengan duduk, bahagian bawah perut akan kecut dan perkembangannya terhad. Lantas, hanya dengan sedikit makan, ia sudah kenyang. Bagaimanapun, apabila berdiri atau duduk di kerusi, perut mampu menerima makanan tanpa terkawal. Ibarat belon yang tidak ada cengkaman, ia dapat terus diisi dengan angin hingga akhirnya meletup.
Jadi, hidupkan semula budaya Islam dengan makan sambil duduk di atas lantai dalam keadaan bersila atau bersimpuh. Tambahan pula ia adalah sunnah Nabi. Nabi s.a.w bersabda yang bermaksud: “Barang siapa yang mengamalkan satu daripada sunnahku dalam keadaan ramai manusia yang meninggalkannya, maka akan diberikan kepadanya seratus pahala syahid.”
2. Doa sebelum makan yang berbunyi: “Allahumma baarik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa a´dzaban naar.” (Ya Allah berkatilah kami apa jua yang Engkau kurniakan dan selamatkanlah kami daripada seksaan neraka)
Hikmahnya: Kebanyakan punca penyakit disebabkan daripada makanan. Sebagai manusia yang lemah, kita tidak mampu menolak segala kemudaratan yang ada dalam makanan. Mudah-mudahan dengan berdoa kepada Allah, kita akan terlindung daripada segala gejala yang ada dalam makanan, umpamanya bakteria yang memamah daging manusia atau yang menyebabkan cirit-birit.
Malah, ada manusia yang dihumbankan ke dalam api neraka kerana makan makanan yang haram. Kita juga tidak mampu mengetahui sebenar-benarnya, adakah makanan yang kita makan itu seratus peratus halal atau tidak. Jadi, kita perlu berdoa agar terhindar daripada api neraka kerana kelalaian memilih makanan.
3. Membaca Bismillah sebelum menjamah makanan.
Untuk mengelakkan perkara ini, kita dianjurkan makan dalam keadaan duduk. Dengan duduk, bahagian bawah perut akan kecut dan perkembangannya terhad. Lantas, hanya dengan sedikit makan, ia sudah kenyang. Bagaimanapun, apabila berdiri atau duduk di kerusi, perut mampu menerima makanan tanpa terkawal. Ibarat belon yang tidak ada cengkaman, ia dapat terus diisi dengan angin hingga akhirnya meletup.
Jadi, hidupkan semula budaya Islam dengan makan sambil duduk di atas lantai dalam keadaan bersila atau bersimpuh. Tambahan pula ia adalah sunnah Nabi. Nabi s.a.w bersabda yang bermaksud: “Barang siapa yang mengamalkan satu daripada sunnahku dalam keadaan ramai manusia yang meninggalkannya, maka akan diberikan kepadanya seratus pahala syahid.”
2. Doa sebelum makan yang berbunyi: “Allahumma baarik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa a´dzaban naar.” (Ya Allah berkatilah kami apa jua yang Engkau kurniakan dan selamatkanlah kami daripada seksaan neraka)
Hikmahnya: Kebanyakan punca penyakit disebabkan daripada makanan. Sebagai manusia yang lemah, kita tidak mampu menolak segala kemudaratan yang ada dalam makanan. Mudah-mudahan dengan berdoa kepada Allah, kita akan terlindung daripada segala gejala yang ada dalam makanan, umpamanya bakteria yang memamah daging manusia atau yang menyebabkan cirit-birit.
Malah, ada manusia yang dihumbankan ke dalam api neraka kerana makan makanan yang haram. Kita juga tidak mampu mengetahui sebenar-benarnya, adakah makanan yang kita makan itu seratus peratus halal atau tidak. Jadi, kita perlu berdoa agar terhindar daripada api neraka kerana kelalaian memilih makanan.
3. Membaca Bismillah sebelum menjamah makanan.
Hikmahnya: Memulakan makan atau minuman dengan membaca Bismillah dapat mengingatkan seseorang kepada Allah. Jiwa yang ingat kepada Allah akan patuh kepada Allah dan menjauhi makanan yang terlarang.
Ia adalah antara kalimat yang mempunyai kesan amat besar dalam menentukan kesudahan sesuatu tindakan. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad s.a.w bersabda yang bermaksud: “Setiap perkara baik yang tidak dimulai dengan Bismillah akan terputus daripada rahmat Allah.”
Santapan yang tidak dibaca Bismillah akan dikerumuni oleh syaitan.
4. Makan menggunakan tangan adalah antara sunnah Nabi Muhammad s.a.w yang telah lama ditinggalkan oleh umat baginda pada hari ini.
Hikmahnya: Tangan adalah antara alat utama untuk mengambil dan menyuap makanan ke dalam mulut. Jika ada benda yang membahayakan, tanganlah yang akan mengesannya. Umpamanya, duri / tulang ikan atau tulang ayam.
Soal kekotoran pada tangan tidak akan timbul kerana Islam mengajarkan agar sebelum makan, kita disunatkan terlebih dahulu mencuci tangan dan hanya tangan kanan sahaja yang diajarkan untuk menyentuh makanan.
Dikatakan, antara kehebatan hikmah menggunakan tangan adalah jari-jemari manusia itu mengandungi sejenis kimia yang akan memudahkan penghadaman makanan dalam perut. Ini terbukti apabila orang tua-tua dahulu melarang kita menyentuh makanan yang mahu disimpan dengan tangan kerana ia boleh menjadi basi.
Malah, kita disunatkan menjilat jari-jemari untuk mendapatkan keberkatan dan zat penghadaman yang baik pada akhir waktu makan. Inilah antara sunnah Nabi s.a.w.
5. Dalam keadaan perut yang lapar pula, kita digalakkan mulakan makan atau minum dengan sesuatu yang manis.
Hikmahnya: Perut yang terlalu lapar dan kosong akan mengeluarkan sejenis asid yang boleh membahayakan perut. Makanan manis berupaya menghilangkan asid itu. Itulah sebabnya mengapa Nabi s.a.w memulakan berbuka puasa dengan buah tamar kerana buah tamar terkenal dengan kandungan glukosanya yang sangat tinggi.
6. Diriwayatkan Rasulullah saw tidak pernah makan secara sendirian. Sabda Baginda s.a.w yang bermaksud: “Makanlah secara berjemaah dan bacalah Bismillah, nescaya kamu akan beroleh keberkatan.”
Islam amat menggalakkan hidup berjemaah. Konsep berjemaah ini bukan sahaja wujud dalam amalan ibadah, bahkan ia juga digalakkan dalam perkara-perkara sosial dan perhubungan.Ia adalah antara kalimat yang mempunyai kesan amat besar dalam menentukan kesudahan sesuatu tindakan. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad s.a.w bersabda yang bermaksud: “Setiap perkara baik yang tidak dimulai dengan Bismillah akan terputus daripada rahmat Allah.”
Santapan yang tidak dibaca Bismillah akan dikerumuni oleh syaitan.
4. Makan menggunakan tangan adalah antara sunnah Nabi Muhammad s.a.w yang telah lama ditinggalkan oleh umat baginda pada hari ini.
Hikmahnya: Tangan adalah antara alat utama untuk mengambil dan menyuap makanan ke dalam mulut. Jika ada benda yang membahayakan, tanganlah yang akan mengesannya. Umpamanya, duri / tulang ikan atau tulang ayam.
Soal kekotoran pada tangan tidak akan timbul kerana Islam mengajarkan agar sebelum makan, kita disunatkan terlebih dahulu mencuci tangan dan hanya tangan kanan sahaja yang diajarkan untuk menyentuh makanan.
Dikatakan, antara kehebatan hikmah menggunakan tangan adalah jari-jemari manusia itu mengandungi sejenis kimia yang akan memudahkan penghadaman makanan dalam perut. Ini terbukti apabila orang tua-tua dahulu melarang kita menyentuh makanan yang mahu disimpan dengan tangan kerana ia boleh menjadi basi.
Malah, kita disunatkan menjilat jari-jemari untuk mendapatkan keberkatan dan zat penghadaman yang baik pada akhir waktu makan. Inilah antara sunnah Nabi s.a.w.
5. Dalam keadaan perut yang lapar pula, kita digalakkan mulakan makan atau minum dengan sesuatu yang manis.
Hikmahnya: Perut yang terlalu lapar dan kosong akan mengeluarkan sejenis asid yang boleh membahayakan perut. Makanan manis berupaya menghilangkan asid itu. Itulah sebabnya mengapa Nabi s.a.w memulakan berbuka puasa dengan buah tamar kerana buah tamar terkenal dengan kandungan glukosanya yang sangat tinggi.
6. Diriwayatkan Rasulullah saw tidak pernah makan secara sendirian. Sabda Baginda s.a.w yang bermaksud: “Makanlah secara berjemaah dan bacalah Bismillah, nescaya kamu akan beroleh keberkatan.”
Hikmahnya: Dalam mewujudkan semangat bermasyarakat atau berjemaah, Islam juga menggalakkan agar kita makan bersama-sama dengan saudara yang lain. Makan secara berjemaah akan mewujudkan perhubungan yang baik. Lebih-lebih lagi kalau makan satu dulang atau hidang ini dapat dijadikan amalan dalam keluarga kerana ia boleh mengeratkan hubungan dalam keluarga.
Diriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w sering makan sedulang dengan anggota keluarganya. Allah s.w.t menjanjikan keberkatan kepada keluarga yang makan bersama. Sayangnya, budaya makan bersama ini beransur-ansur pupus.
Dalam peradaban makan bersama, jangan ada yang bangun terlebih dahulu sehingga yang lain semua sudah selesai makan.
7. Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud: “Apabila dihidangkan makanan, maka makanlah daripada makanan yang dekat dengannya dan janganlah dia mengambil makanan daripada orang yang di sebelahnya.”
Hikmahnya: Inilah antara keindahan peradaban makan dalam Islam. Bak kata pepatah Inggeris, ‘action speaks louder’ atau sikap akan mencerminkan peribadi seseorang. Melalui cara ini, diharapkan perasaan rakus dan mementingkan diri akan terkawal dan semangat mengutamakan orang lain dan bertolak ansur dapat terbina pada diri orang berkenaan.
Akibat daripada hilangnya budaya ini dalam majlis-majlis makan masa kini, kita dapat melihat, khususnya pada generasi anak-anak yang bersikap biadab, tamak, dan mementingkan diri sendiri.
8. Kita juga disaran membaca doa selepas makan, yang berbunyi, “Alhamdulillahiladzi ata´manaa wa saqaanaa wa jaa´lanaa muslimin.” (Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum dan menjadikan kami di kalangan orang-orang Muslim)
Hikmahnya: Segala kebaikan datangnya daripada Allah, apa jua kebaikan yang Allah mahu berikan tiada yang dapat menghalangnya dan apa jua keburukan yang dihalang oleh Allah, maka tiada siapa yang mampu mengenakannya.
Dengan membaca doa ini, mudah-mudahan kita akan terus dikurniakan rezeki dan tidak keputusan kerana Allah swt menjanjikan orang yang bersyukur akan mendapat tambahan nikmat-Nya.
Mudah-mudahan dengan doa ini, segala makanan tidak halal yang termasuk dalam mulut kita tanpa pengetahuan akan dimaafkan.
Sebenarnya, ada banyak lagi perkara berkaitan makan dan makanan yang termaktub dalam ajaran Islam yang amat baik untuk kita jadikan amalan.
Diriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w sering makan sedulang dengan anggota keluarganya. Allah s.w.t menjanjikan keberkatan kepada keluarga yang makan bersama. Sayangnya, budaya makan bersama ini beransur-ansur pupus.
Dalam peradaban makan bersama, jangan ada yang bangun terlebih dahulu sehingga yang lain semua sudah selesai makan.
7. Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud: “Apabila dihidangkan makanan, maka makanlah daripada makanan yang dekat dengannya dan janganlah dia mengambil makanan daripada orang yang di sebelahnya.”
Hikmahnya: Inilah antara keindahan peradaban makan dalam Islam. Bak kata pepatah Inggeris, ‘action speaks louder’ atau sikap akan mencerminkan peribadi seseorang. Melalui cara ini, diharapkan perasaan rakus dan mementingkan diri akan terkawal dan semangat mengutamakan orang lain dan bertolak ansur dapat terbina pada diri orang berkenaan.
Akibat daripada hilangnya budaya ini dalam majlis-majlis makan masa kini, kita dapat melihat, khususnya pada generasi anak-anak yang bersikap biadab, tamak, dan mementingkan diri sendiri.
8. Kita juga disaran membaca doa selepas makan, yang berbunyi, “Alhamdulillahiladzi ata´manaa wa saqaanaa wa jaa´lanaa muslimin.” (Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum dan menjadikan kami di kalangan orang-orang Muslim)
Hikmahnya: Segala kebaikan datangnya daripada Allah, apa jua kebaikan yang Allah mahu berikan tiada yang dapat menghalangnya dan apa jua keburukan yang dihalang oleh Allah, maka tiada siapa yang mampu mengenakannya.
Dengan membaca doa ini, mudah-mudahan kita akan terus dikurniakan rezeki dan tidak keputusan kerana Allah swt menjanjikan orang yang bersyukur akan mendapat tambahan nikmat-Nya.
Mudah-mudahan dengan doa ini, segala makanan tidak halal yang termasuk dalam mulut kita tanpa pengetahuan akan dimaafkan.
Sebenarnya, ada banyak lagi perkara berkaitan makan dan makanan yang termaktub dalam ajaran Islam yang amat baik untuk kita jadikan amalan.














